MASSA SOLIDARITAS PEDULI TAPETENG DAN USKUP SIBOLGA SERTA USTADZ SODIKIN LUBIS BERUNJUK RASA UNTUK MENDUKUNG P. RANTINUS MANALU, Pr.

Uskup Mgr Dr Ludovicus Simanullang OFM Cap Keuskupan Sibolga didampingi Pastor Ratinus Manalu Pr dan Ustad M Sodikin Lubis SAg meyampaikan orasi/himbauan di tengah massa Solidaritas Peduli Tapteng yang berunjuk rasa di Mapoldasu Sumut di Medan, Kamis (14/1). Uskup datang ke Mapoldasu Sumut bukan Maksud demo tetapi untuk mendampingi Pastor-nya (Rantinus Manalu Pr) yang sedang diperiksa Polisi. (Foto SIB/Jhon Manalu)

Medan (SIB), 15 Januari 2010

Sejumlah masyarakat dari berbagai elemen yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Tapteng, Kamis (14/1) berunjukrasa di Mapoldasu meminta penghentian kriminalisasi terhadap pejuang kemanusiaan sekaligus memberikan dukungan kepada Pastor Rantinus Manalu Pr, yang menjalani pemeriksaan di Direktorat Reskrim Poldasu sebagai tersangka perambahan hutan Register 47 di Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapteng. Pada kesempatan itu, Uskup Sibolga Dr Ludovicus Simanullang OFM Cap, juga datang ke Mapoldasu untuk mendampingi pastornya yang konsisten membela kepetingan rakyat miskin yang tertindas di Tapteng menjalani pemeriksaan.

“Kedatangan saya kemari bukan untuk berdemonstrasi, tetapi mendampingi Pastor Rantinus menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam kasus perambahan hutan Register 47 di Tapteng,” kata Uskup.

“Saya melihat tuduhan itu sangat tidak tepat. Polisi sebagai penegak hukum terlalu apriori menuduh seorang pastor, pemimpin agama sebagai tersangka perambah. Bagaimana mungkin seorang pastor yang telah berkaul untuk hidup sederhana, tidak menikah, tidak punya anak, rela hidup miskin dan merelakan hidupnya untuk membela kebenaran dan keadilan, dituduh sebagai perambah hutan,” kata Uskup.Begitu gampangnya polisi menetapkan tuduhan itu. Bagaimana jadinya, jika seorang guru selalu kita curigai mengajarkan ajaran jahat kepada muridnya. Dan apa jadinya, jika kita selalu curiga kepada polisi akan berbuat jahat terhadap rakyatnya, kata Uskup dalam kesempatan memberikan penjelasan soal kedatangannya kepada massa yang berada di Lapangan Upacara Mapoldasu.

Ricuh
Massa Solidaritas Peduli Tapteng dan anggota Polisi aksi dorong-dorongan mengakibatkan seorang dari antara massa terjatuh, Kamis (14/1) di halaman Mapolda Sumut. (Foto SIB/Jhon Manalu)Massa, yang berasal dari FPTR Tapteng, Walhi Sumut, Kontras Sumut. PI Sumut, Korda GMNI Sumut. PBHI Sumut. PMKRI Cabang Medan, BEM FE UMA. USE, ELBH Sumut, Teplok dan KPHSU sebelum memasuki Mapoldasu berkumpul di pinggir jalan seberang Mapoldasu. Pada saat itu, sejumlah pengunjukrasa membagi bunga dan seleberan kepada para pengemudi kenderaan yang melintas di sana.

Bersamaan dengan itu, sejumlah polisi datang dan meminta pengujukrasa masuk ke Mapoldasu agar tidak mengganggu pengguna jalan. Namun. pengunjukrasa meminta waktu karena masih menunggu rekan mereka. Pada saat itulah terjadi pertengkaran antara polisi dan pengunjukrasa, hingga seorang perwira menegah polisi memukul seorang pengunjukrasa bernama Denis Simalao, dari PMKRI Cabang Medan.

Kericuhan juga terjadi di halaman Mapoldasu, ketika terjadi dorong-dorongan antara pengunjukrasa dengan polisi yang meminta agar massa masuk ke areal yang telah di police line. Massa sempat bertahan, namun terus didorong sehingga beberapa orang mengalami pemukulan. Bahkan seorang wanita, Sahat Tarida dari Walhi Sumut sampai terduduk ke aspal berada di antara kerumunan polisi. Kasus itu telah dilaporkan ke Propam Poldasu.

Tak berapa lama setelah kedua insiden itu, Pastor Rantinus, Uskup Sibolga dan Imam Mesjid Raya Barus Ustadz M Sodikin Lubis SAg didampingi sejumlah pengacara yang tergabung dalam Tim Advokasi Hak-Hak Masyarakat datang dan langsung menemui para pengunjukrasa. Pastor terlihat berbicara dengan Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Drs Baharudin Djafar dan mempertanyakan soal pemukulan seorang mahasiswa.

Dalam orasinya, Pastor Rantinus Manalu Pr menjelaskan bahwa hari itu dia akan menjalani pemeriksaan kedua setelah pemeriksaan tanggal 16 Desember lalu. Sebagai warga yang baik ia akan selalu taat hukum dan akan menjalaninya. Dia menyerukan bahwa perjuangannya adalah untuk mempertahankan hak-hak rakyat kecil. “Kita tidak boleh takut untuk itu. Sebab kalau kita takut, maka penguasa akan memanfaatkannya untuk terus menindas kita,“ seru pastor Rantinus.
Dia juga menegaskan, bahwa dirinya tidak takut akan semua intimidasi. Dia lebih takut pada ketakutan itu sendiri. “Sebab jika saya takut, maka tidak akan bersuara lagi. Saya tidak akan pernah surut untuk menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran itu. Ke istana negara pun saya akan demo untuk berjuang agar hak-hak rakyat Tapteng tidak dirampas begitu saja. Di penjara pun saya tidak masalah. Yang menjadi masalah bagi saya adalah, jika rakyat kecil itu harus melepaskan setapak tanahnya dirampas oleh orang lain dengan semena-mena,” katanya.

Pastor juga menjelaskan, kedatangan massa ke Mapoldasu adalah untuk menyuarakan bahwa di Tapteng telah terjadi kekerasan dan pelanggaran hak azasi manusia (HAM). Kasus kekerasan itu telah memasuki tahap yang serius karena dilakukan secara sistematis dan terorganisir, seperti kasus pembunuhan Partahian Siimanungkalit, penyerobotan lahan milik warga transmigran dan tanah adat oleh PT NS, pembakaran rumah Edianto Simatupang, pembakaran hasil panen dan tanaman milik warga, teror dan intimidasi terhadap warga desa, penikaman Edianto Simatupang oleh oknum preman, pemenjaraan terhadap 10 warga petani dan terakhir kriminalisasi Rantinus Manalu Pr. Pastor dari Keuskupan Sibolga dan Robinson Tarihoran.

Pengusutan kasus-kasus itu hingga kini tidak pernah jelas dan tuntas. Sementara di pihak lain, aparat kepolisian dengan sangat gampang menjadikan Pastor Rantinus Pr dan Robinson Tarihoran menjadi tersangka perambah hutan, kata seorang orator sambil berteriak “Maju terus membela yang benar bukan yang bayar.” Pada kesempatan itu juga Ustadz M Sodikin Lubis meneriakkan perlawanan terhadap Pemerintah Tapteng yang dinilai lebih kejam dari penjajah Belanda dan telah merampas hak-hak rakyat kecil. “Perjuangan ini adalah perjuangan kemanusiaan, “ kata M Sodikin.

Masa yang berjumlah seratus orang lebih tersebut membawa dua poster besar berisi agar menangkap penguasa Tapteng yang menjadi otak kejahatan di Tapteng.

Seusai memberikan semangat kepada massa pendampingnya, Pastor Rantinus Pr didampingi Uskup Sibolga dan sejumlah pengacaranya berangkat menemui juru periksa di Dit Reskrim Poldasu. Sementara sejumlah utusan lainnya mendampingi Denis Simalao membuat pengaduan ke Propam Poldasu.

Ketika pastor menjalani pemeriksaan, Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Drs Baharudin Djafar kepada wartawan menjelaskan, bahwa Pastor Rantinus dipanggil sebagai tersangka, namun di dalam berkas dia belum dinyatakan tersangka. “Jadi berkas yang telah dikirim ke jaksa adalah berkas Robinson Tarihoran,“ kata Kabid Humas.

Ditanya soal pemukulan pengunjukrasa yang telah dilaporkan ke Propam Poldasu. Kabid Humas mengatakan, silakan saja diadukan jika memang ada pemukulan. Dikatakan, pihaknya telah berupaya agar pengunjukrasa masuk ke Mapoldasu agar jangan menganggu arus lalu lintas. Namun mereka sempat bertahan hingga sempat menggangu arus lalu lintas “Negara demokrasi menjunjung tinggi hak-hak orang lain,“ katanya seraya menyebutkan, dia juga harus ikut mengatur arus lalu lintas agar tidak macat di depan Mapoldasu.

Peta Register 47 Masih di Belanda

Seusai menjalani pemeriksaan sekira pukul 14.30 WIB, Pastor Rantinus Manalu yang terus didampingi Uskup kembali menemui massa yang setia menunggu di Lapangan Upacara Mapoldasu. Dia menjelaskan seputar pemeriksan yang dijalaninya. Katanya, sebelum memasuki materi pemeriksaan, Pastor meminta polisi untuk menunjukkan peta Register 47, yang dituduh dirambahnya. Namun, menurut Pastor, polisi menyebutkan peta itu masih di Belanda karena Belanda dulu yang membuatnya.

Setelah mendengar jawaban itu, Pastor kemudian menyatakan ketidaksediaannya diperiksa sebelum polisi menunjukkan peta Register 47 yang disebut dirambahnya dan menjadi alasan penetapannya sebagai tersangka. Akhirnya polisi menghentikan pemeriksaan itu dan tidak menyebutkan, kapan akan diperiksa kembali.

Menanggapi pernyataan Pastor Rantinus Manalu itu, Uskup juga memberikan pernyataan yang mengecam penyederhanaan kasus yang dilakukan polisi. “Saya malu, betapa polisi dengan gampangnya menyederhanakan persoalan. Padahal Pastor saya sudah dihina dan dijadikan tersangka. Saya datang kemari demi kebaikan dan kebenaran. Saya sebagai Uskup Sibolga yang membawahi 7 wilayah pemerintahan daerah tak punya urusan datang ke kantor polisi ini. Namun karena Pastor saya sebagai pemimpin agama sudah dihina dan dijadikan tersangka saya datang kemari. Tapi betapa gampangnya polisi menyederhanakan persoalan bahwa peta register yang dipersoalkan masih di Belanda. Ini Tidak bisa ditolerir di negara ini,” kata Uskup lagi.

Dia juga mengecam pemukulan pengunjukrasa yang dilakukan oknum polisi. “Pertama saya datang kemari semua berjalan dengan baik. Tapi yang kedua ini mengapa mesti ada pemukulan. Padahal mereka hanya ingin memperjuangkan hak-hak rakyat,” kata Uskup.

Prematur

Sementara Andi Lumban Gaol SH, seorang dari Tim penasehat hukum Pastor Rantinus menilai polisi terlalu cepat menetapkan Pastor Rantinus sebagai tersangka dalam kasus itu. ”Penetapan jadi tersangka ini prematur. Sebelum ada bukti yang kuat polisi telah menetapkannya jadi tersangka. Alasan polisi menjadikan tersangka hanyalah keterangan saksi yang menyebutkan, hutan itu adalah Register 47. Sementara batas-batas hutan dengan pemukiman masyarakat tidak jelas.Pastor Rantinus dijadikan tersangka, karena dinilai telah membantu rakyat memberikan bibit sawit kepada warga Barus untuk peremajaan tanaman mereka. Padahal rakyatlah yang mebuat permohonan kepada Keuskupan Sibolga untuk menyediakan bibit. (Pr2/M16/M17/i)

Dikutip dari harian Sinar Indonesia Baru Medan

One thought on “MASSA SOLIDARITAS PEDULI TAPETENG DAN USKUP SIBOLGA SERTA USTADZ SODIKIN LUBIS BERUNJUK RASA UNTUK MENDUKUNG P. RANTINUS MANALU, Pr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s