DANAU TOBA HARUS DIKELOLA SEBUAH BADAN OTORITA

Harian SINAR INDONESIA BARU, 24 Juli 2008

Satu-satunya jalan untuk melestarikan Danau Toba adalah menjadikannya sebagai Kawasan Otorita dan membuat Undang-undang Perlindungan Danau. Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Drs Ir H Sutan Bhatoegana Siregar MM saat bertemu dengan Ketua Paguyuban Artis Sumut DR Buntora Situmorang sebagai penggagas Daerah Otorita Danau Toba dan Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumut, Yusuf Siregar, Selasa (22/7) di Hotel Danau Toba Medan.
“Kalau tidak dijadikan kawasan otorita atau dilindungi undang-undang maka sampai kiamat pengembangan kawasan Danau Toba sebagai kawasan wisata tidak akan tercapai,” ujarnya. Pada perbincangan itu Sutan Bhatoegana menilai bahwa kehadiran Presiden SBY di Sumut sebagai pertanda bahwa masa depan Danau Toba sudah di depan mata.

“Walaupun saya berada di Komisi VII DPR RI namun saya akan mendorong usulan masyarakat Danau Toba sehingga mendapat perhatian dari Komisi II yang akan mengesahkan usulan tersebut,” katanya.
Diakuinya dalam proses pengusulan itu bisa memakan waktu hingga 2 tahun namun kalau dihitung keuntungan yang akan didapatkan dari perjuangan selama 2 tahun itu tidak akan terukur karena Danau Toba akan kembali menjadi salah satu objek wisata kelas dunia.

Sutan Bathoegana yang merupakan salah satu pemrakarsa kehadiran Presiden SBY ke Danau Toba menyambut baik ide dari Bunthora Situmorang yang mengusulkan agar pengelolaan Danau Toba dilakukan dengan membentuk badan otorita yang dikelola seniman.
“Kita juga meminta kepada Komisi II DPR RI agar setiap danau yang berpotensi untuk dijual sebagai tempat wisata harus ada anggarannya dari pusat.

“Kita harus membangkitkan kembali kepariwisataan Danau Toba dan menghadirkan kembali turis-turis asing yang dulu silih berganti datang ke Danau Toba,” katanya.
Bunthora Ciptakan Lagu Mempromosikan Danau Toba

Komitmen Bunhora untuk memajukan Danau Toba sudah mulai direalisasikan dengan menciptakan lagu dengan lirik-lirik menggambarkan keindahan Danau Toba.
“Danau ajaib hasil ledakan gunung berapi purba ribuan tahun, Budaya dan istiadat masyarakatnya sungguh unik, mereka senang menyanyi dan bersahabat, Danau itu sedang menanti kehadiranmu, masyarakatnya akan meluap—luap menyambut kedatanganmu, Engkau akan melihat pemandangan alam yang sangat indah, dan panorama yang menakjubkan, jadi kenapa engkau belum datang ke Danau Toba, engkau akan menemukan kenangan yang tak terlupakan, kenapa engkau belum datang, kenapa, berikan waktumu berkunjung ke Danau Toba, jangan sia-siakan”.

Bunthora yang sudah lama memendam kerinduannya membesarkan Danau Toba sudah menyiapkan konsep yang akan dilakukan terutama dengan kampanye melestarikan budaya asli misalnya “gorga batak” dan merubah pola berpikir menjadi jiwa wisata.

Diakuinya, masyarakat Batak dalam tradisinya selalu menghargai setiap tamu yang datang dan menganggap tamu sebagai raja sehingga setiap kedatangan tamu maka makanan yang disajikan adalah makan yang paling enak.

Sebagai inspirator usulan itu akan dikonsultasikan dengan mendatangi tokoh-tokoh masyarakat di Sumatera Utara sehingga akan mendapat dukungan semua pihak.(M15/d)

7 thoughts on “DANAU TOBA HARUS DIKELOLA SEBUAH BADAN OTORITA

  1. protapanuli Post author

    @GORGA art photographi,

    Melihat potensi Daau Toba yang luar biasa indahnya memang model pengelolaan kawan di bawah sebuah Badan Otorita merupakan sebuah alternatif.

    Hal ini juga didukung fakta bahwa kawasan Danau Toba mencakup beberapa wilayah otonom Kabupaten. Tanpa ada integrasi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di kawasan Danau Toba di sebelah utara Karo dan di selatan Humbang, di bagian Barat Kab. Dairi dan dan Timur Kab. Simalungun, pembangunan di kawasan tersebut yang dilakukan secara sektoral oleh kabupaten-kabupaten tersebut tidak akan menghasilkan sinergi.

    Ada pengalaman pembangunan kawasan yang cukup berhasil di Indonesia yaitu OTORITA BATAM.

    Dengan pengalaman keberhasilan Otorita Batam itu, memang ada harapan bahwa pola OTORITA mungkin bisa diterapkan untuk pembangunan kawasan Danau Toba yang cukup luas itu.

    Hanya ada satu faktor yang sangat kritikal untuk pola OTORITA semacam ini untuk berhasil yaitu status tanah di kawasan yang kelak akan dikelola OTORITA tersebut. Status tanah di Batam ketika OTORITA BATAM pertama kali di bangun dan di kawasan Danau Toba saat ini adalah sangat berbeda.

    Tanpa ketersediaan lahan yang kuasa pengelolaannya berada penuh pada OTORITA DANAU TOBA tersebut rasanya sulit mengharapkan keberhasilan model seperti ini dalam membangun kawasan Danau Toba. Untuk berhasil kawasan yang seharusnya diserahkan kepada otorita adalah seluruh wilayah danau dan garis pantainya. Ini penting untuk konservasi lingkungan dan kawasan tersebutlah yang mempunyai prospek tinggi untuk menarik investasi.

    Begitu sebuah kawasan telah ditetapkan untuk dikelola oleh Badan Otorita, wewenang pembangunan infrastruktur fisik dan infrastruktur birokasi harus sepenuhnya berada pada Badan Otorita tersebut. Permasalahannya adalah, bersediakan kabupaten-kabupaten yang memiliki kawasan Danau Toba menyerahkan lahan tersebut kepada sebuah Badan Otorita.

    Reply
  2. benhard SITOHANG

    KERAMBA TERAPUNG DAN SISA PAKAN IKAN DI DANAU TOBA

    Oleh : Benhard Sitohang, Dr.Ir.

    Penggunaan pakan ikan, disamping memberikan keuntungan bagi peternak ikan di danau toba (keramba), juga menimbulkan efek samping yang tidak terlihat seketika, tetapi berdampak negatif di jangka panjang.

    Pengalaman di berbagai lokasi, seperti di Waduk Cirata ~ 6200 Ha (Jabar), penumpukan sisa pakan ikan diperkirakan 161 juta m3, yang menjadi endapan dan menimbulkan pendangkalan Cirata. Disamping itu, pakan ikan juga menimbulkan NH3, H2S sebagai hasil penguraian dari sisa-sisa pakan dan kotoran yang mengendap akan turut terangkat ke permukaan, membentuk umbalan air berwarna hitam pekat serta berbau.

    Untuk keberlanjutan danau toba di masa yad., tentunya berbagai pihak terkait perlu memberi perhatian serius sejak dini, khususnya PEMKAB Samosir.

    Reply
  3. Gregor

    Danau Toba memang harus diselamatkan, selain sebagai objek wisata, danau ini juga menjadi sumber air penggerak turbin PLTA sigura-gura. Jika pendangkalan terjadi hampir pasti PLTA ini akan terancam.

    Namun lebih daripada itu, perlu dilakukan upaya upaya penyadaran masyarakat akan hal ini. Pembenahanan secara fisik memang perlu, namu lebih daripada itu adalah pembenahan mental. Saya yakin semua percaya bahwa pembenahan mental menuju kesadaran akan cinta lingkungan dan sesama selalu dimulai dari basis keluarga.

    Keluarga sebagai basis pembentukan anak bangsa harus ditingkatkan peranannya.
    Disana lah dibentuk mental cinta akan lingkungan, cinta akan kehidupan, cinta akan sesama.

    Sehingga dengan kesadaran yang terbentuk dan tertanam dalam hati masyarakat, maka secara otomatis akan mampu menggerakkan segala daya potensi dirinya untuk mengembangkan dan memelihara kehidupan termasuk danau toba sendiri.

    Memang membentuk kesadaran itu tidak mudah, apalagi masyarakat kita (tapanuli) memelihara paham-paham yang turun temurun tanpa pemahaman dan pengertian yang kurang dalam dan mengakar pada inti kehidupan.

    Pertanyaannya : Apakah masyarakat khususnya di tapanuli dan seputar danau toba menyadari akan hal itu?, Jika belum upaya2 apa yang harus dilakukan?.

    Reply
  4. Rahman Laen

    Badan Otorita merupakan suatu institusi dengan kewenangan khusus dan memiliki otoritas yang disebutkan dalam peraturan pembentukan badan otorita itu. Tentu, dalam pelaksanaan programnya tidak terlepas dari tanah wilayah otoritasnya. Kepada Badan Otorita akan diberikan status penguasaan atas tanah dengan jenis hak tertentu, biasanya hak pengelolaan. Karena dengan hak pengelolaan badan otorita memiliki kewenangan untuk merencanakan, mengatur penggunaan dan pemanfaatan tanah, mengalihkan tanah kepada pihak lain yang memerlukan termasuk menarik uang pemasukan atau uang wajib tahunan dari tanah yang dikuasai pihak lain.

    Sehubungan hal tersebut maka beberapa hal perlu menjadi perhatian seperti:
    1. Tanah di kawasan pesisir danau toba terutama wilayah Parapat, Ajibata, Tongging. Onan Runggu, Tele, Silalahi, Lintong ni Huta, Muara, Balige, Porsea dan lainnya termasuk pesisir Pulau Samosir, saat ini telah dikuasai oleh masyarakat baik perorangan maupun badan hukum dengan status hak (ada sertipkat) maupun belum memiliki sertipikat. Dari aspek penggunaan telah banyak diatasnya telah berdiri bangunan maupun tanaman.

    2. Bahwa supaya sebuah badan otorita dapat diberikan hak pengelolaan, oleh Undang-Undang disyaratkan Badan Otorita tersebut melakukan pembebasan atas tanah, bangunan dan tanaman dengan biaya ganti rugi, dan masyarakat yang mendiami kawasan tersebut dipindahkan ke pemukiman baru.

    3. Khusus kawasan Danau Toba, maka sangatlah penting mempertimbangkan aspek sosial budaya masyarakat sekitar apabila misalnya dilakukan pemindahan ‘huta, jabu hatubuan dan tambak (kuburan) serta mengganti saba, hauma dan porlak’ masyarakat. Barangkali perlu diawali semacam survei tentang hal itu.

    Tentu saja butir-butir diatas tidak bermaksud mengatakan bahwa ide badan otorita untuk mengelola kawasan Danau Toba tidak mungkin dilaksanakan, melainkan sekadar menyampaikan bahwa untuk mebentuk suatu badan otorita dari awal perencanaannya sungguh mesti mutlak harus matang, mantap.

    Haras….. Maju Tapanuli !!!

    Reply
  5. Hiras T.H Purba

    Sudah saatnya Danau Toba diselamatkan dengan dikelola dengan baik, tidak seperti sekarang ini dimana kerambah ikan dimana-mana dan munculnya “pariwisata” pelacuran (maaf) di sejumlah tepian Danau Toba yang dibungkus dengan menu kafe, yang tidak sanggup dikendalikan oleh Pemkab setempat (atau mungkin sengaja dipelihara soalnya menambah APBD walau tidak seberapa). Coba perhatikan menurut data Pemkab Tobasa penderita penyakit HIV AIDS di Tobasa saja mangalami peningkatan yang cukup mengkhawatirkan mulai tahun 2004 (baca: http://tobasamosirkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=105&Itemid=1 ), belum tahu data terbaru sekarang ini.
    Parahnya, pelakunya adalah orang-orang kita sendiri (halak hita) yang membangun “pariwisata” yang saya sebut diatas di daerah masing-masing. Mereka membangun pariwisata Danau Toba dengan cara yang salah, malah membawa hal-hal yang jelek ke kampung halaman sendiri.

    Saya punya pengalaman tidak mengenakkan seperti ini, pada tahun 2006 ketika liburan bersama istri ke Balige, biasanya saya pasti mengunjungi Lumban Silintong Balige. Namun yang saya lihat waktu itu sudah jauh dari yang diharapkan, yang ada hanya kafe-kafe yang menyediakan menu-menu minuman keras dan pramuniaga yang “cantik-cantik”. Dan pada sat kami kesana di sore hari, pas pramuniaganya lagi mandi begitu saja.
    Saya sampai malu sendiri, dan istri saya juga yang belum pernah pulang ke Balige (kami menikah tahun 2005) menjadi sedih melihat hal seperti itu, Danau Toba yang begitu indah bukannya dibangun malah dirusak oleh hal-hal seperti itu.
    Berbeda dengan tanggapan istri saya ketika saya bawa ke Salib Kasih (disana penjualnya ramah-ramah) istri saya sangat senang, apalagi melihat keindahan asli Danau Toba dari puncak Hutaginjang, Silangit sangat luar biasa.
    Saya himbau kepada semua perantau dari Tano Batak dan juga Pemkab yang ada di sekitar Danau Toba, agar lebih memperhatikan Danau Toba dan perkembangannya.
    Silahkan buat Perda atau RUTR yang memanfaatkan kawasan Danau Toba sehingga tidak bisa dirusak oleh orang-orang yang hanya mencari keuntungan sendiri.
    Horas ma di lae Sitohang parjabu on.

    Reply
  6. efendy naibaho

    ya setuju sekali lah danau toba jadi otorita danau toba. sudah lama saya setuju ini, malah kalau perlu dibuat menjadi sebuah provinsi, namanya provinsi danau to ba dan ibukotanya di samosir. horas.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s