TAPANULI, TANAH MASA LALU ATAU MASA DEPAN?

 

 

Oleh: Petrus M. Sitohang

 

Baru baru ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah kunjungan di Kalimantan Timur berucap bahwa Kalimantan adalah pulau masa depan Indonesia. Apakah itu ucapan yang sungguh-sungguh atau sekadar basa-basi politik seorang presiden yang sebentar lagi akan berjuang untuk mendapatkan kepercayaan rakyat untuk mandat yang kedua, yang jelas Kalimantan memang kaya akan hasil bumi. Hampir semua yang diperlukan untuk membiayai pembangunan ada di Kalimantan, mulai dari kayu, minyak, gas bumi, batubara dan lain-lain. Selain itu perusahaan-perusahaan dalam maupun luar negeri dalam sepuluh tahun terakhir ini berlomba-lomba membuka puluhan bahkan ratusan ribu hutan atau lahan tidur untuk perkebunan kepala sawit.

 

Dalam beberapa kali kunjungannya ke wilayah Tapanuli semenjak menjabat, Presiden Yudhoyono tidak pernah mengatakan wilayah Tapanuli sebagai tanah masa depan. Nampaknya memang tidak ada dasar yang cukup bagi Presiden untuk mengucapkan basa-basi semacam itu kepada orang-orang Tapanuli yang memang terkenal tidak suka basa basi. Kenyataannya adalah sejak lama wilayah Tapanuli selalu dimasukkan dalam peta kemiskinan di negeri ini.

 

Tapi di sisi lain, sejak kemerdekaan Tapanuli melahirkan banyak sarjana dan jenderal yang memimpin di negeri ini. Dari kalangan sipil, kita mengenal Amir Syarifuddin, TD Pardede, Adam Malik, Cosmas Batubara, Akbar Tanjung, Arifin Siregar dan lain-lain yang pernah mengisi posisi penting di kabinet negeri ini. Kita juga mengenal Jenderal Besar AH Nasution, Jenderal TB Simatupang, Jenderal Maraden Panggabean dan Jenderal Faisal Tanjung untuk menyebut sedikit saja jenderal yang pernah memimpin angkatan bersenjata negeri ini. Di bidang pendidikan kita mengenal Prof. Dr. Andi Hakim Nasution ahli matematika ternama di negeri ini, Dr. Pantur Silaban, guru besar ITB dan ahli nuklir negeri ini, atau Dr. Benhard Sitohang salah satu insinyur IT yang pertama dan pionir pendidikan IT di negeri ini. Dalam berbagai kontes persaingan di tingkat nasional, putera-puteri Tapanuli juga sering kali tampil sebagai pemenang.

 

Lalu di mana persoalannya? Wilayahnya tidak berkembang padahal sumber daya manusianya berkualitas.

 

 

Sejarah Tapanuli Dalam Sejarah Indonesia

 

Lance Castle dalam bukunya Tapanuli 1915-1940 menyebutkan bahwa sesungguhnya Tapanuli tidak pernah menjadi pokok perhatian penting pemerintah kolonial Belanda. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa Belanda baru merasa perlu menguasai wilayah Tapanuli setelah semua wilayah lain di Indonesia takluk kepada Belanda. Hal ini disebabkan karena beberapa hal.

 

Pertama, sebagian besar wilayah Tapanuli adalah wilayah pegunungan yang tidak tidak ramah untuk diolah menjadi wilayah perkebunan seperti di bagian pantai timur Sumatera. Wilayah ini juga tidak mengandung hasil tambang seperti minyak dan gas bumi yang ditemukan di Aceh dan Langkat dan sebagian besar tidak subur. Kedua, wilayah ini terlalu lama hidup dalam isolasi dari dunia luar sejak pelabuhan Barus tutup dan wilayah ini tidak lagi menghasilkan kapur barus yang sebelumnya menjadikan wilayah ini menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting di belahan timur dunia.

 

Meskipun demikian, daerah ini termasuk yang paling lama jatuh ke dalam kekuasaan penuh Belanda. Perang Batak yang dipimpin oleh raja Sisingamangaraja XII dimulai sejak 1878 dan baru berakhir tahun 1907. Ini merupakan periode perang terlama di negeri ini yang hampir 30 tahun dipimpun oleh seorang raja.

 

Barangkali inilah salah satu keunikan sejarah Tapanuli. Meskipun faktanya Belanda sadar bahwa daerah Tapanuli bukanlah daerah yang akan memberikan manfaat ekonomi yang memadai, namun Belanda menemukan bahwa raja-raja dan orang Tapanuli tidak begitu saja mudah ditundukkan dan menyerahkan kedaulatannya atas wilayah ini.

 

Barulah pada masa setelah tunduknya raja terakhir dari dinasti Sisingamangaraja nama daerah Tapanuli mulai muncul dalam percaturan kebangsaan Indonesia dalam posisi yang berbeda. Nama Tapanuli mulai muncul bukan melalui hasil alam ataupun pajak yang disumbangkan daerah Tapanuli melainkan melalui orang-orang yang lahir dari daerah ini dan berkarir di luar daerah terutama di Pulau Jawa.

 

Belanda sendiri dengan cepat menyadari bahwa orang-orang Tapanuli sangat menghargai sekolah dan terkenal haus akan pendidikan. Hanya dalam periode yang singkat orang-orang Tapanuli sudah mampu mengejar saudara-saudaranya yang sudah jauh lebih dulu mengecap pendidikan modern seperti orang Jawa, Minahasa dan Minang. Dan dengan hasil pendidikan itulah manusia-manusia Tapanuli dengan cepat mengisi lembaran sejarah negeri ini dengan berkarir di berbagai bidang seperti: politik, militer, pendidikan, kebudayaan dan sosial lainnya. Para perantau dari Tapanuli segera mengisi berbagai bidang pekerjaan dan tidak sedikit di antara mereka yang menjadi pionir di daerah-daerah baru yang didiaminya. Sebagai contoh, banyak pejabat di Kepulauan Riau saat ini yang merupakan anak didik guru-guru asli orang Tapanuli yang datang merantau ke daerah ini pada awal masa kemerdekaan.

 

Adakah Masa Depan Bagi Tapanuli?

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar wilayah Tapanuli adalah wilayah yang tidak subur dan sulit dikembangkan menjadi wilayah perkebunan besar seperti di wilayah pantai timur Sumatera. Disamping itu, masalah tanah di daerah ini merupakan persoalan yang berat karena kebanyakan merupakan tanah ulayat masyarakat adat yang tidak mudah dialihkan untuk industri yang memerlukan lahan besar seperti usaha perkebunan tanaman keras atau pariwisata resort dan lapangan golf.

 

Memang belakangan ini ditemukan lokasi yang memiliki kandungan tambang emas di Tapanuli Selatan. Tetapi Tapanuli bagian tengah dan utara minus dengan hasil tambang. Itulah sebabnya sangat sedikit ditemui perusahaan besar yang beroperasi di wilayah Tapanuli.

 

Dan oleh karena itu pulalah maka setiap tahun wilayah Tapanuli adalah penghasil perantau-perantau ke seluruh wilayah lain di negeri ini. Karena industri yang ada di wilayah ini tidak pernah mampu menyediakan lapangan kerja bagi lulusan sekolah-sekolah yang ada di wilayah ini.

 

Satu-satunya yang bisa dibanggakan dari alam Tapanuli adalah panorama Danau Toba yang hingga awal tahun 80 masih merupakan salah satu tujuan wisata yang populer bagi wisatawan mancanegara di Indonesia selain Bali.

 

Lalu apa yang bisa diharapkan dengan kondisi tersebut? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya terletak kembali kepada faktor sumber daya manusia orang-orang Tapanuli. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, peranan Tapanuli dalam sejarah negeri ini adalah peranan manusia-manusianya. Sumberdaya manusia Tapanuli tidak disangkal lagi merupakan potensi besar bagi pembangunan Tapanuli. Saat ini orang-orang Tapanuli sudah banyak yang berhasil di berbagai bidang usaha di luar Tapanuli bahkan di luar negeri. Banyak diantara mereka yang sudah memupuk modal yang sangat besar. Jika sebagian saja dari modal yang dimiliki oleh orang-orang Tapanuli perantauan tersebut diinvestasikan di Tapanuli, niscaya Tapanuli akan mampu memberikan return atas investasi yang cukup menjanjikan. Kenapa?

 

Alam Tapanuli memang sebagian besar bergunung-gunung dan kurang subur, tetapi memiliki panorama yang sangat indah dan potensial bagi industri pariwisata. Dunia mengakui sesungguhnya Danau Toba adalah bak mutiara yang sangat indah dan tidak ternilai bagi Tapanuli jika dikelola dengan tepat untuk industri pariwisata berbasis masyarkat budaya dan alam (eco tourism).

 

Selain indah alam Tapanuli yang demikian itu juga masih dapat dikembangkan untuk tanaman pangan  seperti palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. Apalagi dengan kondisi krisis pangan yang melanda dunia saat ini, peluang Tapanuli untuk dikembangkan menjadi penghasil bahan pangan masih sangat menjanjikan.

 

Yang diperlukan adalah pengembangan kapasitas pemerintahan di daerah-daerah yang masuk wilayah Tapanuli untuk mampu merencanakan, melaksanakan dan mengawasi roda pemerintahan yang efektif untuk melayani masyarakat, melakukan pembangunan  infrastruktur dan menciptakan iklim  yang kondusif bagi usaha swasta baik di bidang pertanian maupun industri lainnya untuk berkembang. Jika iklim ini bisa diciptakan, usaha swasta adalah lokomotif pembangunan daerah yang tidak perlu diragukan lagi efektifitasnya. Paradigma pembangunan baru yang perlu disadari adalah bahwa Pemerintah Daerah harus memberikan tempat di depan bagi usaha swasta untuk membangun Tapanuli, pemerintah daerah hanya sekadar memberi dukungan. Dalam konteks ini pelaksanaan kegiatan promosi wisata seperti Pesta Danau Toba seharusnya diserahkan kepada usaha swasta untuk mengelolanya dan bukannya dibebankan kepada APBD. Pemerintah dan Pemerintah Daerah bisa saja membantu penyelanggaraannya beberapa tahun permulaan, namun secara bertahap usaha swasta yang selanjutnya harus melaksanakan kegiatan tersebut secara komersil.

 

Kalau kapasitas pemerintahan di daerah yang menjadi persyaratannya, maka itu berarti masalah pokoknya kembali lagi ke masalah sumberdaya manusia, yakni SDM di bidang pemerintahan. Sjarah negeri ini sudah mencatat banyak orang-orang Tapanuli yang dipercaya dan mampu menjalankan jabatan-jabatan yang tinggi di semua bidang. Pertanyaannya menjadi “Kalau orang Tapanuli mampu berkarya dan berprestasi di pusat dan di daerah lain di negeri ini, kenapa  tidak di daerahnya sendiri?”

 

*)Petrus M. Sitohang adalah seorang akuntan, bekerja pada investor Bintan Resorts sejak 1995 hingga 2005. Saat ini bekerja pada sebuah perusahaan investor asing (PMA) di kawasan perdagangan bebas Bintan. Dia juga menjadi staff ahli DPRD Tanjungpinang khusus untuk masalah-masalah Anggaran dan Keuangan Daerah sejak tahun 2006 hingga saat ini.

 

3 thoughts on “TAPANULI, TANAH MASA LALU ATAU MASA DEPAN?

  1. Nimrod Sitohang {A.Naomi}

    Well., sangat baik..dan memberikan pencerahan tentang sejarah dan pemikiran pemikiran tentang Tapanuli.

    Last but not least, semakin banyak pemikiran tentang tapanuli, kegalauan di dalam nurani ini yang selalu bertanya ” kapan ya tapanuliku maju??” akan mulai terjawab.
    horas
    Par Batam

    Reply
  2. Parhobas

    @ Nimrod Sitohang

    Terimakasih appara atas kunjungan dan komentarnya.

    Tapanuli akan maju kalau semua stakeholdernya (pemerintah, dprd, rakyat, usaha swasta dan putera-puterinya yang sudah merantau) bersinergi memajukannya. Kalau semua stakeholdernya itu memberikan fair sharenya masing-masing, niscaya Tapanuli akan cepat maju.

    Horas,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s