MANDAILING BUKAN BATAK?

Dalam pembicaraan sehari-hari sering terjadi perdebatan mengenai apakah orang Mandailing termasuk sebagai suku bangsa Batak.

Dokumen berikut ini memberi jawaban bagi pertanyaan di atas. Salinan dokumen aslinya lengkap dengan tanda tangan para radja-radja Mandailing yang memberi pernyataan dapat dilihat di buku “AHU SISINGAMANGARAJA” karangan Prof. Dr. WB Sidjabat (Penerbit: SInar Harapan Jakarta, cetakan ketiga 2007, halaman 463).

BATAK MANINGGORING

 

Assalamoe alaikoem

 

Kami yang bertanda tangan dibawah ini:

  1. Radja Mangatas
  2. Soetan Soripada Panoesoenan
  3. Mangaradja Panoesoenan
  4. Soetan Koemala Boelan
  5. Soetan Singa Soro Baringin
  6. Mangardja Panobaoenan
  7. Mangaradja Soetan Solengaon
  8. Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi
  9. Soetan Pandapotan
  10. Mangaradja Solompoon
  11. Mangaradja Moeda Panoesoenan
  12. Mangaradja Iskandar Panoeroenan
  13. Soetan Bintang Pandapotan
  14. Patoean Koemala Boelan

 

Masing masing radja panoesoenan (kepala koeria) di:

 

  1. Pakantan Lombang
  2. Pakantan Boeali
  3. Oleoe
  4. Tariang
  5. Monambin
  6. Kota Nopan
  7. Panombangan
  8. Naga
  9. Pidoli Boekit
  10. Kota Siantar
  11. Panjaboengan Djoeloe
  12. Panjaboengan Tonga
  13. Goenoeng Baringin
  14. Gewezen Kepala Koeria di Goenoeng Toea

 

Semoeanja dalam lingkungan onderafdeling Groot en Klein Mandailing, Oelo en Pakantan, afdeling Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli, menerangkan dengan sesoenggoehnja bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ia-lah bangsa “Batak”, sedangkan agamnja sebahagian besar “Islam” dan sebahgian ketjil sekali agama “Christen” ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar.

 

Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak).

 

Demikianlah soepaja terang akan adanja.

 

Diperboeat dalam kerapatan radja2 Mandailing di Kajoe Laoet tanggal 18 Agustus 1922.

 

                                                                                                                Kami jang menerangkan

                                                                                                        tanda tangan

 

 

BATAK sebenarnja boekan nama negeri ataoe nama agama, melainkan nama satoe bangsa di Indonesia tinggal di Residentie Tapanoeli.

 

Nama MANDAILING boekan nama bangsa, tetapi nama satoe loehak di Tapanoeli – Selatan mendjadi Batak Mandailing

 

Perdebatan apakah Batak itu Mandailing atau bukan diantaranya dapat diikuti di dua blog tersebut dibawah ini:

http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/14/kajian-antropologi-orang-mandailing-adalah-etnis-batak/

http://bumibebas.blogspot.com/2007/06/bangsa-mandailing-tidak-batak-dan-bukan.html

7 Responses to “MANDAILING BUKAN BATAK?”

  1. Partomuan Says:

    Saya pernah membaca piagam ini. tetapi ketika saya menanyakannya ke orang mandailing, mereka bilang raja2 yang bertandatangan disitu, sebenarnya tidak mau, raja2 tersebut menandatanganinya karena dibawah tekanan dan todongan senjata penjajah Belanda agar mereka mudah menguasai tanah Batak.
    Sepertinya perlu konfirmasi dari keturunan Raja2 yang bertandangan diatas.

    Horas jala gabe

  2. gumanti lubis Says:

    Menurut saya piagam itu benar adanya, karena saya pun keturunan Batak Mandailing, dan opung kami percaya kalau itu dibuat benar adanya tanpa ada paksaan, piagam itu justru dibuat guna mempererat tali persaudaraan sesama orang Batak manapun sebab saat itu mulai terjadinya perpecahan etnik karena adanya beberapa perbedaan. Tidak semua orang Mandailing tidak mengakui kebatakannya, justru sebagian besar yang mengerti sejarah sanagat bangga menjadi bagian dari bangsa Batak dan ingin selalu bersaudara antar sesama Batak tanpa membeda-bedakan perbedaan yang ada.

  3. Masudin Sitanggang Says:

    Suku atau ras dengan agama adalah dua hal yang berbeda. Suku, etnis, atau ras adalah masuk dalam kategori garis keturunan yang membentuk satu kelompok (komunitas)atau sekumpulan kelompok, sedangkan agama adalah suatu paham atau kepercayaan dari tiap individu terhadap Tuhannya.
    Ras atau suku tidak bisa berubah, walaupun ayah dan ibunya beda suku karena masih ada aturan budaya yang mengikat, sedangkan agama atau paham bisa berubah.
    Kalau kita ingin menelusuri mengenai ras atau suku saya lebih setuju dengan dominasi terhadap persamaan-persamaan tabiat, sifat bawaan, ikatan-ikatan darah, social budaya dan bahasa. Kalaupun ada perbedaan, itu disebabkan banyak factor. Terutama lingkungan tempat tinggal, makanan, pendidikan dan genetika orang tua.
    Kita bisa ambil contoh dikeluarga kita masing-masing, walaupun kita lahir dari ibu dan ayah yang sama pasti ada perbedaan karakter, warna kulit, posture tubuh, intelektual dll.
    Lalu kemudian setelah besar bisa jadi ada yang menganut agama Islam, Katholik, Protestan dll.
    Kemudian seandainya masing-masing merantau ke daerah yang berbeda, misalnya yang satu tinggal di P. Jawa, ada yang ke Aceh, ada yang ke Nias dan tinggal dengan waktu yang sangat lama, tentu akan timbul perbedaan dialeg maupun bahasa. Salah satu contoh lagi orang batak di Medan dan di Jakarta dialegnya akan berbeda walaupun bahasanya sama, yaitu bahasa Indonesia.
    Dari contoh di atas, apakah mereka akan dikategorikan beda keluarga atau ras atau suku?

  4. Sitohang Par Bintan Says:

    @ Partomuan
    Saya sulit membayangkan Belanda melakukan hal semacam itu hanya untuk mendapatkan dokumen yang secara langsung tidak bisa dipakai untuk mendapatkan tujuannya seperti yang anda katakan yaitu untuk menguasai Tanah Batak.

    @ Gumanti Lubis

    Saya sependapat dengan anda. Secara rasional memang sulit untuk menerima penjelasan bahwa Mandailing bukan Batak, karena sifat-sifat dasar adat istiadat dan kosa katanya kebanyakan sama. Bahkan marganyapun kebanyakan sama.

    @ Masudin Sitanggang

    Saya sependapat dengan anda. Adalah fakta bahwa agama adalah sesuatu yang bisa dirubah oleh pemeluknya. Tetapi tidak untuk kelompok garis keturunannya.

  5. diaru Says:

    Yang perlu di ingat bahwa Penguasa-penguasa dan orang Mandailing adalah prajurit sejati dari Paderi yang tentunya sangat bertentangan dengan Sang penjajah yaitu Belanda, karena kegigihannya Belanda pun sangat kewalahan mungkin nomor dua terahir sebelum Aceh ditaklukkan.

    “Kayu laut 18 Agustus 1922……… ”
    Pasukan atau tentara Paderi sudah mengasingkan diri baik yang dari Padang Bolak, Toba , Minang dan Mandailing ke Malaka untuk membentuk dan menghimpun kekuatan baru.

    Raja Panusunan Panjaboengan Djoeloe ( yang seharusnya ) telah ikut ke Malaka untuk membangun strategi perang dan menghimpun dana serta kekuatan bersama Paderi-Paderi yang lain . Karena itu diangkatlah salah seorang kahanggi yang diberikan gelar oleh Belanda dengan sebutan Regen Panjaboengan Djoeloe jadi sangat jelas bahwa pada saat penanda tanganan perjanjian tsb, yang seharusnya yang menandatangani adalah raja yang dicintai rakyat bukan raja yang pro Belanda atau yang diangkat Belanda.

    Jadi yang menandatangani perjanjian tsb tadi adalah terdiri dari :
    1. Kepala koeria yang sudah takluk kepada Belanda
    2. Kepala koeria yang diangkat sepihak oleh Belanda yaitu (kerabat,kahanggi…)dari raja yang sebenarnya.
    3. Kepala koeria yang di bawah ancaman.

    Silakan diartikan sendiri bagaimana keadaannya saat itu.

    Sapulu noli santabi i sombahon tu mora dohot kahangi niba di sude hasalahan na ,na di sutarkon on inda adong da niat niba na giot mambaen hancit ni roha di hita. Santabi.

    Horas.

  6. Lian Nasution Says:

    @ Diaru

    Wah.. wah.. wah.. terbelakang sekali sepertinya pengetahuan anda ini mengenai Mandailing. Tapi memang anak zaman sekarang tidak mengetahui lagi sejarah yang sebenarnya.. tapi anda masih muda sepertinya.. coba banyak membaca deh untuk menambah wawasan anda.

    Saya tanggapi pendapat anda yang bilang begini:

    Jadi yang menandatangani perjanjian tsb tadi adalah terdiri dari :
    1. Kepala koeria yang sudah takluk kepada Belanda
    2. Kepala koeria yang diangkat sepihak oleh Belanda yaitu (kerabat,kahanggi…)dari raja yang sebenarnya.
    3. Kepala koeria yang di bawah ancaman.

    Begini saudara Diaru..

    1. Tidak ada kepala koeria yang takluk kepada Belanda.. kepala koeria sebelumnya adalah raja, setelah kerajaan bergabung dalam Hindia Belanda.. jadi alangkah konyolnya kalau ada pernyataan “kepala koeria yang takluk kepada Belanda”

    2. Kepala koeria diangkat sepihak oleh Belanda (kerabat, kahanggi..???).. kepala koeria adalah pangkat raja.. raja disana tidak berdasarkan kerabat atau kahanggi tapi di angkat oleh rakyat.
    Begini saudara Diaru, anda harus tahu dulu… kapan dan mengapa Mandailing ada kepala koeria? Mandailing TIDAK PERNAH takluk oleh Belanda (camkan itu!) Namun raja2 disana melakukan perundingan dengan Belanda kemudian karena terdesak oleh pasukan Padri dan mereka butuh dukungan.. maka akhirnya dijadikan wilayah tersebut menjadi wilayah protektorat.. wilayah yang di jaga oleh Belanda.. Raja kemudian diangkat menjadi Kepala Koeria.

    3. Kepala koeria dibawah ancaman apa????

    Surat pernyataan itu dibuat oleh inisiatif raja-raja di Tapsel untuk menyadarkan masyarakat batak mandailing karena adanya kekhawatiran retaknya persaudaraan karena adanya perbedaan agama, sebab Belanda sudah lama berusaha memisahkan orang Tapanuli selatan dengan Utara dan mengadu domba raja2 disana walupun tidak pernah berhasil “devide et impera”.

    Makanya kalau ada orang yang masih ingin pisah2 mempermasalahkan perbedaan menurut saya itu bodoh namanya… nenek moyang kita ingin bersatu menghindari perpecahan oleh penjajah belanda, kok malah sekarang dukung politik “devide et impera” penjajah??

    Oh iya saudara Dairu, coba rajin2 datang ke perpustakaan nasional ya.

  7. Djandel Marbun Says:

    Kurang jelas hubungan piagam yang ditanda tangani koeria dengan pertanyaan Apakah Mandailing adalah Batak. Lebih sederhana lihat persamaan budaya dan tradisi dan lebih presisi periksakan DNA nya. Gitu aja koq repot repot…Agama tidak ada hubungan dengan mandailing Batak atau tidak..

Leave a Reply